Humor dan Homo Ludens

Agus Rahmat

Abstract


Humor adalah fenomena aneh dan penuh paradoks: sesuatu yang sebenarnya tidak serius -bahkan pernah dianggap jahat – namun di sisi lain ternyata juga dianggap sangat penting. Plato sempat menganggap humor dan tertawa sebagai kejahatan, sejajar dengan penghinaan. Kaum Stoa, biarawan-biarawan Kristiani purba, hingga beberapa filsuf abad 17, melihat tertawa sebagai kekurangan pengendalian diri. Psikoanalisis Freudian menganggap humor sebagai bentuk terselubung kedengkian dan naluri liar libido. Namun kini orang cenderung melihat sebaliknya: kini humor dilihat justru sebagai kecerdasan kritis, secara psikologis mencerminkan fleksibilitas mental, secara fisik menurunkan tegangan dan memacu imunitas, secara sosial merupakan lubrikan yang memperlancar hubungan interpersonal.  Sempat pula ada anggapan bahwa humor merupakan indikator adanya ketertekanan masif. Sementara di sisi lain konon humor juga menunjukkan kematangan psikologis dan religius.  

 

Extension Course Filsafat kali ini bermaksud hendak memahami kompleksitas dari gejala yang disebut ‘humor’ itu, dengan mencoba melihatnya dari bermacam perspektif, antara lain : dari sudut filsafat, neuroscience, psikologi, bahasa, budaya, agama, dll.


Full Text:

PDF


DOI: https://doi.org/10.26593/ecf.v0i2.2008.%25p

Refbacks

  • There are currently no refbacks.