EKSPRESI PANORAMA PADA KORIDOR JALAN TERKAIT EKSISTENSI JEMBATAN AMPERA KOTA PALEMBANG (STUDI KASUS: JALAN SUDIRMAN DAN JALAN RYACUDU)

Roni Sugiarto, Rachman Muliawan

Abstract


Abstract

Corridor is a space in a city that serves as a regional connection between one area with other areas. Sudirman Street and Ryacudu Street are corridors in the city of Palembang. Both of these streets are separated by Musi River and the corridors connected by Ampera Bridge. Panoramic sequences consisting of rhythm, proportion, and visual perception in this corridor should provide a good existence of the Ampera Bridge as a landmark of Palembang City.

This research used a qualitative descriptive method to describes how the panoramic Sudirman Street and Ryacudu Street corridor associated with the existence of Ampera Bridge.The analysis of segment distribution of each corridor based on a sample section draw and sketching with the data processing method of the survey in the field. Based on observation, rhythm, proportion, and visual perception contained in the both of corridors are already giving panoramic related to the existence of Ampera Bridge. However, with the not orderly construction of fly-over and billboards, it is disturbing the exsistence of Ampera Bridge. Moreover, the panorama related to the existence of Ampera Bridge which initially be viewed from each corridor, began to fade.

 

Key Words: panoramic, rhythm, proportion, visual perception, corridor, Ampera Bridge

                                                                                                

Abstrak

Koridor merupakan salah satu ruang dalam sebuah kota yang berfungsi sebagai penghubung sebuah kawasan dengan kawasan lain. Jalan Sudirman dan Jalan Ryacudu merupakan koridor yang berada di kota Palembang. Kedua jalan ini dipisahkan oleh Sungai Musi dan sebagai koridor jalan dihubungkan oleh Jembatan Ampera. Rangkaian panorama yang terdiri dari irama, proporsi, dan persepsi visual pada koridor ini diharapkan memberikan tingkat eksistensi yang tinggi Jembatan Ampera sebagai landmark Kota Palembang.

            Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif yang berusaha menggambarkan bagaimana panorama koridor Jalan Sudirman dan Jalan Ryacudu terkait dengan eksistensi Jembatan Ampera. Pembagian segmen setiap koridor dianalisis berdasarkan sampel potongan gambar dan sketsa dengan metode pengolahan data dari hasil survey di lapangan. Berdasarkan hasil pengamatan: irama, proporsi, dan persepsi visual yang terdapat pada kondisi kedua koridor ini sudah memberikan panorama terkait eksistensi Jembatan Ampera. Namun, dengan adanya pembangunan jalan layang dan peletakan papan reklame yang tidak tertib, mengakibatkan eksistensi Jembatan Ampera terganggu. Selain itu panorama terkait keberadaan Jembatan Ampera yang pada awalnya terlihat dari setiap koridor, mulai memudar.

 

Kata Kunci: panorama, irama, proporsi, persepsi visual, koridor, Jembatan Ampera


Full Text:

PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.