LOMBA MAL DI BANDUNG MENUJU KEMAJUAN ATAU KEHANCURAN?

Budianastas Prastyatama

Abstract


Abstract

            Bandung, like many other major cities in Indonesia, aspires to be a vibrant, progressive city and a pride to its citizens. Stakeholders’ efforts to materialize that aspiration manifests physically in urban spaces as witnessed in Bandung. Admittedly, interpretations of that novel aspiration more than often are amissedly executed.

            Shopping centres (malls) as one of the types of built environment frequently revered as one of key investment items in a city are many times considered as symbol of progress and modernization. Along with that, ownership of motorized vehicles, residences, and other consumption materials strengthened the symbol. The rate of presence of malls in Bandung, increasing frequency and quality of traffic jams are some of the tangible indicators to underline the phenomenon. This, to some extent, increases the burden unto the city itself.

            This paper aim is to study critically what such burden occurred. Specifically, this paper studies the change(s) of architectural and public space(s), occurred through the presence of malls in the spirit of capitalism, “modernity”, “progress”, in their relationship with their human citizens/users.

            The method that used in this study is qualitative method, observation and reference study. It concluded that the current mall growth shifts the meaning of architectural space(s) into commodity, and public space(s) into quasi public space(s) which is private (essentially).

 

Key Words: malls, capitalism, car culture, spatial meaning, man–space relation

 

Abstrak

Bandung, sebagaimana kota besar lain di Indonesia, memiliki aspirasi menjadi kota yang hidup, maju, dan menjadi kebanggaan warganya. Upaya berbagai pemangku kepentingan untuk mewujudkan aspirasi tersebut tertuang ke dalam manifestasi fisik pada ruang kota seperti yang dapat disaksikan langsung di Bandung. Patut diakui bahwa interpretasi atas aspirasi yang baik tersebut seringkali tidak tepat dalam eksekusinya.

Pusat perbelanjaan (mal) sebagai salah satu jenis lingkungan binaan yang sering dijadikan salah satu butir investasi utama di sebuah kota, sering dianggap pula sebagai simbol kemajuan dan modernisasi. Bersamaan dengan itu, kepemilikan kendaraan bermotor, rumah, dan benda-benda konsumsi lainnya hadir memperkuat simbol tersebut. Laju kehadiran mal di Bandung, peningkatan frekuensi dan kualitas kemacetan lalu lintas, menjadi beberapa indikasi kasat mata yang menegaskan fenomena tersebut. Sedikit banyak hal ini memberi beban kepada kota itu sendiri.

Tulisan ini bertujuan meninjau secara kritis beban seperti apakah yang timbul. Secara khusus, studi ini membahas perubahan yang ditimbulkan kehadiran mal dalam nafas kapitalisme, “modernitas”, “kemajuan” terhadap makna ruang arsitektur dan ruang publik dalam hubungannya dengan manusia warga/penggunanya.

Metode yang digunakan dalam tulisan ini adalah metode kualitatif, pengamatan langsung, dan studi literatur. Dapat disimpulkan bahwa gerak pertumbuhan mal yang terjadi sekarang ini menggeser pemaknaan ruang arsitektur ke arah komoditas, dan pengalihan ruang publik menjadi ruang quasi publik yang berhakekat privat.

  

Kata Kunci: mal, kapitalisme, budaya mobil, pemaknaan ruang, hubungan manusia-ruang


Full Text:

PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.