Seni dan Imagologi: Menuju Emansipasi Imaji dalam Fenomenologi Seni

Authors

  • Hadrianus Tedjoworo Jurusan Ilmu Filsafat, Fakultas Filsafat Universitas Katolik Parahyangan, Bandung

DOI:

https://doi.org/10.26593/ecf.v0i1.1979.%25p

Abstract

Imaji bukanlah konsep. Dengan sangat miskin ia diterjemahkan sebagai „gambaran‟.
Kini semuanya mau dikonseptualisasi. Diskursus tentang realitas dan seni pun mau dibuat semakin „teoretis‟, yakni berdasarkan model-model yang dianggap berlaku lebih universal dalam nama ilmu pengetahuan. Benarkah seni ada karena sebuah penilaian? Apakah tidak sepantasnya orang belajar lagi untuk mengalami, lebih daripada memahami (menempatkan realitas ke dalam sebuah struktur pemahaman)? Bahasa kita bertanggung jawab juga dalam hal „pemiskinan‟ imaji-imaji yang hadir dalam kehidupan. Menggambarkan itu sudah bersifat interpretatif. Ia sudah merupakan tahap berikut dalam hermeneutik, sebab interpretasi kita tidak pernah sekedar suatu reproduksi realitas. Dengan begitu, di satu sisi, bukan berarti konsep itu sesuatu yang tidak penting atau tidak perlu dalam (filsafat) seni, tetapi sifat „kritis‟ dalam filsafat mengandaikan bahwa kita tidak begitu saja memutlakkan salah satu pendekatan yang berusaha menyingkapkan kebenaran. Di sisi lain, sifat „kritis‟ filsafat tidak mungkin juga membuat orang jatuh ke dalam interpretasi yang relativistis, yang tidak peduli apakah penafsirannya menyumbangkan suatu ketersingkapan makna atau seakan-akan „sama saja‟ di tengah banjir interpretasi lain.

Kesadaran bahwa imaji bukanlah konsep dapat menantang mereka yang terlibat dalam seni untuk menempatkan kembali dirinya sebagai para apresiator imaji, lebih daripada penafsir karya seni. Mereka diundang untuk mengalami lebih daripada menilai, mengapresiasi lebih daripada mengkategorisasi berdasarkan konsep. Dengan begitu, sebetulnya suatu karya seni dikembalikan pada realitas yang mau menghadirkan dirinya sendiri melaluinya. Dalam fenomenologi seni, para seniman bukanlah kreator imaji, sebab imaji itu berasal dari realitas yang dihadirkan melalui karya seninya, dengan bantuan kekuatan imajinasinya. Imaji, dalam pengertian ini, jauh lebih kaya dibandingkan gambaran yang sangat tergantung pada kemampuan analogis setiap seniman. Manusia memang berusaha menggambarkan realitas, tetapi imaji yang hadir dalam pengalamannya akan selalu lebih kaya, mengatasi setiap konsep yang dicipta untuk sekedar mempermudah proses analoginya.

Downloads

Published

2016-05-30

Issue

Section

Articles