Seni dan Kehidupan Urban : IMAH BUDAYA ( IBU ) CIGONDEWAH Revitalisasi Budaya dan Pemberdayaan Masyarakat Melalui Karya Seni Lingkungan

Authors

  • Tisna Sanjaya

DOI:

https://doi.org/10.26593/ecf.v0i1.1989.%25p

Abstract

Mencintai tanah, air, pohon dan warga Desa Batu Rengat Cigondewah dengan gairah penciptaan karya seni dari budaya desa yang kaya akan sumber mata air yang mengalir menjadi Sungai Cigondewah adalah gairah penciptaan karya seni bersama warga desa Cigondewah yang sedang terpinggirkan.
Pernah aliran sungai Cigondewah yang jernih itu mengalir penuh cinta ke sawah-sawah, menumbuhkan padi, tumbuh hingga panen dan dirayakan dengan berbagai helaran seni yang kaya akan nilai-nilai kearifan tradisi sunda, seperti Bring-Brung, Lais, Benjang, Pencak Silat, Jajampanaan serta syukuran Syalawatan.
Warga berkirim penganan Peuyeum Ketan, Rangginang, Kolontong, Bodol Osi sampai Beras Tutu Hawara Geulis yang berbentuk pipih, putih bersih, beras yang indah khas Cigondewah.
Perlahan air sungai Cigondewah dibanjiri limbah beracun limpahan dari pabrik , sumber mata air terperangkap oleh budaya pembiaran berjamaah, pepohonan dan padi serta alam tidak lagi menjadi sahabat, dan warga terperangkap ke dalam budaya baru dari perilaku produksi proses industrialisasi. Flora dan fauna punah..
Kini terhampar jemuran limbah plastik, gudang-gudang dan pabrik daur ulang plastik, kepul asap pembakaran limbah, sebuah desa di ujung perbatasan kota Bandung Barat yang tidak pernah pulas tertidur. Hilir mudik truk pengangkut limbah plasik yang diangkut dari pabrik-pabrik plastik desa Cigondewah Kidul meremukan Jalan Desa Batu Rengat.
Panen Raya produksi plastik tidak pernah ditandai oleh helaran beragam seni tradisi dan saling mencicipi berkirim hasil produksi. Hilang pula nilai-nilai budaya gotong royong, spirit religi yang kaya akan nilai-nilai kecintaan pada kerja keras mengolah bumi sebagai rasa syukur, dzikir sambil mengolah air, tanah, pepohonan dan tersingkir juga ruang terbuka yang aman dan nyaman untuk bermain anak-anak.
Lingkungan hidup yang kini rubuh adalah proses sistemik pembiaran dari aparatus pemerintah, politik yang tidak bijak untuk menunjukan arah perubahan tata kota dari proses sistem industri kapitalisasi dan tanpa pendampingan dari para intelektual, budayawan yang berkelimun di situs kota Bandung dengan jargon kota seni, budaya dan pendidikan.
Proses kreasi penciptaan karya seni proyek Imah Budaya Cigondewah adalah sikap pendampingan penulis dalam merespon perubahan desa pertanian menjadi kawasan industri. Mendampingi anak-anak yang nyaris terberangus oleh budaya produksi industrialisasi yang menjamur di hampir tiap rumah warga tempat sewa video games, serta media elektronik yang menghanyutkan waktu dan energi masa-masa kanak-kanaknya menjauh dari alam lingkungan hidupnya.
Metode penciptaan karya seni yang lebur dengan alam Batu Rengat Cigondewah menjadikan posisi dan fungsi seni bagian kehidupan sehari-hari.
Bentuk karya seni yang penulis ciptakan berupa bangunan serta penataan tanaman di halaman Imah Budaya Cigondewah adalah bentuk fisik penciptaan karya seni yang tumbuh bersama warga untuk mengolah kekayaan tradisi dan spirit religi dalam semangat zaman masa kini untuk mengisi ruang yang hampa dari proses perubahan desa Batu Rengat Kelurahan Cigondewah Kaler Bandung Kulon.
Harapan yang ingin ditumbuhkan dari Penciptaan Karya Seni Pusat Kebudayaan Cigondewah adalah tumbuhnya rasa optimis, semangat zaman dalam upaya merevitalisasi tradisi dan spirit religi desa dalam mencintai, membenahi lingkungan hidup untuk tujuan menjadi model penciptaan Karya Seni yang inspirasinya menumbuhkan daya hidup dan kebaikan bagi lingkungan.

Downloads

Published

2016-05-30

Issue

Section

Articles