https://journal.unpar.ac.id/index.php/JurnalIlmiahHubunganInternasiona/issue/feed Jurnal Ilmiah Hubungan Internasional 2021-05-04T09:08:34+07:00 Elisabeth Dewi jihi@unpar.ac.id Open Journal Systems <div id="journalSummary"> <table> <tbody> <tr> <td valign="top"> <p style="text-align: justify; font-size: 12px;">Jurnal Ilmiah Hubungan Internasional (JIHI) is a periodical international relations journal that is published twice a year (March-May and September-November). JIHI is managed and published by Parahyangan Center for International Studies (PACIS) study Center supervised by International Relations Department, Parahyangan Catholic University.</p> <p style="text-align: justify; font-size: 12px;">JIHI can be a reference and literature source for academician in International Relations area as it consists of articles and research reports on International Relations Issues. Articles and research reports are written by academics who is the expert on its field like Security Studies, International Political Economy, Regime, International Organization, Gender and International Relations, Diplomacy, Media and International Relations, etc.</p> <p style="text-align: justify; font-size: 12px;">Articles that are received by editorial board will pass through blind review process by External Reviewer. The articles that are considered appropriate to be published will be proceeding to the reviewing process. Articles that passed reviewing process will be published online with OJS system that can be accessed in our website and will be published in hardcopy too.</p> </td> <td> </td> <td valign="top"> </td> </tr> </tbody> </table> </div> https://journal.unpar.ac.id/index.php/JurnalIlmiahHubunganInternasiona/article/view/3570 Proteksionisme Trump dan Masa Depan Supremasi Politik AS 2021-03-27T09:51:58+07:00 Ahmad Sahide ahmadsahideumy@gmail.com <p><em>Donald Trump, Presiden Amerika Serikat, sudah menunjukkan arah kebijakan inward-looking atau proteksionisme sejak awal kampanyenya menuju White House. Sebagai presiden dengan latar belakang pengusaha, Trump melihat bahwa pasar bebas dengan membiarkan semua berjalan sesuai dengan mekanisme pasar lebih banyak merugikan Amerika Serikat. Oleh karena itu, bagi Trump, rakyat Amerika membutuhkan kehadiran negara untuk melindungi (proteksi) produk yang dihasilkan dalam menghadapi produk-produk yang datangnya dari luar (produk impor). </em><em>Pandangan ‘America First’ Trump inilah yang memunculkan gejolak politik global. </em><em>Tidak lama setelah menjadi Presiden AS, Trump akhirnya menepati janjinya dengan mengeluarkan peraturan tarif bagi produk impor, terutama yang datang dari China dan Meksiko. </em><em>Hasil dari kajian ini menunjukkan bahwa k</em><em>ebijakan proteksionisme </em><em>yang diambil oleh </em><em>Trump tersebut memicu terjadinya perang d</em><em>agang</em><em> karena China, sebagai salah satu negara super power, tidak berdiam diri. China membalas kebijakan Trump dengan tarif yang tinggi untuk produk impor yang datang dari Amerika Serikat. Perang Dagang pun menjadi tidak terhindarkan dan hal ini memengaruhi gejolak ekonomi global. </em><em>Dampak dari perang dagang yang dipicu oleh kebijakan </em><em>inward-looking </em><em>Trump ini adalah s</em><em>ekutu AS di Eropa, yang menganut ekonomi liberal pun mulai tidak sejalan dengan langkah politik Trump sehingga hal ini mengancam supremasi politik AS dalam kancah politik global. </em><em>Di satu sisi, China kini sedang bangkit dan diprediksi bahwa negara Tirai Bambu tersebut akan menggantikan supremasi politik global Amerika Serikat. Keberanian China dalam melayani AS di bawah Trump dalam perang dagang mengindikasikan bahwa AS bukan lagi negara yang memegang kendali dunia sepenuhnya. Maka, supremasi politik global Amerika dalam ancaman. China adalah salah satu negara yang menjadi ancaman nyata dan di depan mata.</em></p> 2021-05-04T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2021 Jurnal Ilmiah Hubungan Internasional https://journal.unpar.ac.id/index.php/JurnalIlmiahHubunganInternasiona/article/view/4220 Fashion, Feminisme dan Hubungan Internasional : Perdebatan dalam Literatur 2021-02-24T15:54:12+07:00 Ani Soetjipto ani_soetjipto@yahoo.com Ayu Chandra chandra.ayu92@yahoo.com <p>Artikel ini akan membahas bagaimana <em>fashion</em> dikaji melalui kaca mata feminis dalam studi Hubungan Internasional. Artikel ini hadir dengan melihat <em>fashion</em> sebagai salah satu produk dari <em>pop culture,</em> telah berperan signifikan dalam mendorong upaya pencapaian kepentingan suatu aktor politik—terutama sebagai alat konstruksi identitas. Kajian ini juga mendorong perkembangan kajian mengenai <em>pop culture</em> dalam studi Hubungan Internasional. Bahasan dibuka dengan menyajikan perdebatan literatur mengenai <em>fashion</em> dan feminisme. kemudian dilanjut dengan bagaimana narasi perdebatan tersebut dijabarkan dalam konteks Hubungan Internasional. Selanjutnya, melihat masalah <em>fashion</em>, feminisme dan Hubungan Internasional dalam konteks Indonesia dari segi produksi dan konsumsi. Artikel ini menawarkan perspektif baru dalam melihat <em>fashion</em> sebagai second-order representation dari politik internasional yang berdampak pada isu di ranah domestik.</p> 2021-05-04T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2021 Jurnal Ilmiah Hubungan Internasional https://journal.unpar.ac.id/index.php/JurnalIlmiahHubunganInternasiona/article/view/3728 Comparative Analysis of Indonesia-China High Speed Train and KTX Korea-France: A Sustainable Development for Locals or Reconfiguring Other Interests 2021-03-15T11:33:33+07:00 Darynaufal Mulyaman darynaufal.mulyaman@uki.ac.id Kanya Damarçanti damarcanti@inadis.org <p class="A" style="text-align: justify; text-justify: inter-ideograph; text-indent: 19.65pt; line-height: 115%;"><span lang="EN-US">This study undermines a recent development of joint-cooperation between Indonesia and China regarding high-speed railway and its supporting constructions. New dedicated railway, train technology, and Transit Oriented Development (TOD) are part of the initial project, which planned concurrently along the projected area. All of these new railway and TODs are new and distant from already built residences and business centers. These study breakdowns how the Indonesia-China High Speed Train project were initiated and explaining vital factors that surrounds it. Reflecting on how Korea and France dealt with KTX (Korean Train Express) project, the TODs, railways, and train technology compare to Indonesia-China High Speed Train project, Indonesia-China project appears not sustainable and driven by other political and economical will.</span></p> 2021-05-04T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2021 Jurnal Ilmiah Hubungan Internasional https://journal.unpar.ac.id/index.php/JurnalIlmiahHubunganInternasiona/article/view/4350 The Impact of IFAD’s Involvement as an Inter-Governmental Organisation in the Livelihood of Moroccan Family-Farms 2021-02-08T19:11:47+07:00 Gwladys Nicimbikije nicimbikije@yahoo.com Elisabeth Dewi elisabeth.dewi@unpar.ac.id <p><em>Family farming exists overall and each has its own unicity in term of managing the farm operations, farm size, productivity, socio-economic conditions, local knowledge and geographical location besides the externalities such as depletion of resources exacerbated by the climate change. Hence, the following question drove the authors: “to what extent of involvement are intergovernmental organization concerned with farmers’ livelihood in Morocco?” Therefore, this research purpose outlines the role of family farming and their characteristics; challenges of farming livelihood and productivity in Morocco; and IFAD’s support for inclusive rural transformation. The authors hold view that family farming with higher on-farm innovative inputs of processing activities can expect increased yield. The findings revealed that IFAD’s global governance endowed by modern corporation, -corporate governance for instance, - enables participation of rural beneficiaries in their projects thus increases their self-management onto (environmental) natural resources and sustainability. Skills, training, innovation and technologies allow them to diversify and intensify their agricultural holdings hence access to new markets and cope with the ecological risks though there is limitation with the innovation and services extension.</em></p> 2021-05-04T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2021 Jurnal Ilmiah Hubungan Internasional https://journal.unpar.ac.id/index.php/JurnalIlmiahHubunganInternasiona/article/view/3488 Indonesia-Russia Strategic Partnership in Southeast Asia Region 2021-03-15T14:28:11+07:00 Hendra Manurung hendra19001@mail.unpad.ac.id This paper aims to elaborate Indonesia and Russia bilateral relations, which closer post March 2018, after both countries leaders in Moscow agree accelerating the draft of the new strategic partnership agreement. Foreign Ministers Retno Marsudi and Sergey Lavrov signed a Plan of Consultation 2017 to 2019 pursued at bilateral interactions intensification. Kremlin views Jakarta as regional influential power and able to become dominant regional actor in Southeast Asian. This paper revealed, through Russia with ASEAN dialogue partnership, thus, a road map under working framework in strengthening closer relations along with mutual benefits pursued by Jakarta and Moscow also should be implemented and proceed further. 2021-05-04T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2021 Jurnal Ilmiah Hubungan Internasional https://journal.unpar.ac.id/index.php/JurnalIlmiahHubunganInternasiona/article/view/3507 Jalan Terjal Implementasi Reconciliation and Healing Foundation oleh Korea Selatan dalam Hubungan dengan Jepang 2021-03-12T22:16:14+07:00 Maria Aurelia Primastuti Puspasari mariaurelia1014@gmail.com Hermini Susiatiningsih h32minis22@gmail.com <em>Comfort Women Agreement </em>sebagai upaya penyelesaian isu <em>comfort women </em>diantara Korea Selatan dan Jepang telah tercapai di tahun 2015. Sebagai tindak lanjut dalam perwujudan skema perjanjian tersebut, salah satu kebijakan yang harus diimplementasikan oleh pemerintah Korea Selatan yakni mendirikan sebuah yayasan untuk memberi dukungan kepada semua mantan <em>comfort women</em> dalam penyembuhan luka psikologis melalui kontribusi dana dari anggaran Pemerintah Jepang. Namun <em>Comfort Women Agreement </em>dan pendirian yayasan<em> </em>yang kemudian dinamai <em>Reconciliation and Healing Foundation </em>masih ditanggapi dengan respon negatif dari masyarakat dan korban <em>comfort women </em>di Korea Selatan. Hal ini menjadi jalan terjal yang dihadapi dalam proses implementasi <em>Reconciliation and Healing Foundation </em>dan berujung pada pembubaran yayasan tersebut pada tahun 2018. Penelitian ini bermaksud menjelaskan bagaimana faktor-faktor yang mempengaruhi pelaksanaan implementasi yayasan tersebut oleh Korea Selatan dalam skema perwujudan <em>Comfort Women Agreement</em><em>. </em>Untuk menganalisis fenomena tersebut akan menggunakan teori implementasi kebijakan dari Merilee S. Grindle. Hasil dari penelitian ini menjelaskan bagaimana konten kebijakan dan lingkungan implementasi menjadi faktor yang mengakibatkan terbentuknya jalan terjal dalam proses implementasi <em>Reconciliation and Healing Foundation</em>. 2021-05-04T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2021 Jurnal Ilmiah Hubungan Internasional https://journal.unpar.ac.id/index.php/JurnalIlmiahHubunganInternasiona/article/view/3543 Tiga Model Promosi Demokrasi Menurut Lavenex dan Schimmelfennig: Kontribusi Uni Eropa dalam Peningkatan Demokrasi di Myanmar 2021-03-16T12:12:51+07:00 Meilinda Sari Yayusman m.s.yayusman@gmail.com <p style="margin: 0in; font-family: Calibri; font-size: 11.0pt;"><span lang="id">Transisi politik di tahun 2011 mendorong Myanmar untuk menjadi negara yang lebih demokratis. Pemilihan umum pada tahun 2010 telah mengubah sistem pemerintahan Myanmar dari dominasi militer junta menuju pemerintahan sipil di bawah Presiden terpilih, U Thein Sein. Kondisi ini mendorong Myanmar untuk melakukan perbaikan kualitas demokrasi dengan segera. Hal ini juga dilihat sebagai kesempatan bagi Uni Eropa sebagai aktor normatif untuk mempromosikan norma-norma demokrasi dan sampai batas tertentu, memberikan kontribusi untuk peningkatan demokrasi di Myanmar. Menggunakan metodologi kualitatif, penelitian ini bertujuan untuk memeriksa sejauh mana kontribusi Uni Eropa dalam promosi demokrasi telah membawa peningkatan demokrasi di Myanmar dengan berpedoman pada tiga model promosi demokrasi, yakni </span><span style="font-style: italic;" lang="en-US">linkage, leverage, </span><span lang="id">dan </span><span style="font-style: italic;" lang="en-US">governance. </span><span lang="id">Penelitian ini juga bermaksud untuk menentukan model mana yang dianggap paling efektif bagi Uni Eropa untuk peningkatan demokrasi di Myanmar. Berdasarkan penelitian ini, dapat dikatakan bahwa Uni Eropa telah berkontribusi dalam peningkatan demokrasi dimana model </span><span style="font-style: italic;" lang="en-US">linkage </span><span lang="id">dan </span><span style="font-style: italic;" lang="en-US">governance </span><span lang="id">dianggap sebagai cara paling efektif untuk mempromosikan demokrasi di negara tersebut. Namun, model </span><span style="font-style: italic;" lang="en-US">leverage </span><span lang="id">dianggap sulit untuk digunakan dalam implementasi promosi demokrasi di Myanmar. Beberapa komponen dalam model ini tidak dapat diaplikasikan sepenuhnya ketika berbicara tentang persyaratan politik sebagai instrumen untuk promosi demokrasi. Hal ini dikarenakan oleh sejauh ini apa yang telah dilakukan oleh Uni Eropa terhadap Myanmar tidak memberlakukan persyaratan politik.</span></p><p style="margin: 0in; font-family: Calibri; font-size: 11.0pt;"><span lang="id"><br /></span></p><p style="margin: 0in; font-family: Calibri; font-size: 11.0pt;"><span style="font-weight: bold;">Kata kunci: </span>model promosi demokrasi Uni Eropa; aktor normatif; Myanmar</p> 2021-05-04T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2021 Jurnal Ilmiah Hubungan Internasional https://journal.unpar.ac.id/index.php/JurnalIlmiahHubunganInternasiona/article/view/3532 Analisis Dimensi Internasional Konflik Papua dalam Model Counterinsurgency (COIN) 2021-03-15T10:33:30+07:00 Muhammad Angga Ramdhan m.anggaramdhan@gmail.com <p align="center"><strong><em>ABSTRACT</em></strong></p><p><em>McCormick counter-insurgency diamond model is staple theoretical framework to describe Indonesia’s military strategy in quelling Papuan insurgencies. The paper offers new meaning in interpreting the model by focusing on the lens of conflict and international relations studies. To achieve its purpose, this paper use qualitative method of literature study to explain why the internationalization of unresolved Papuan issues can hinder Indonesian government efforts to win the war against Papuan insurgencies. The result shown in the analysis identified that impunity and economic inequalities had become the triggering factor for Papuan conflict internationalization, making the conflict more complex, and ended strengthening insurgency groups against Indonesian government. Thus the paper recommends to address impunity and economic inequality first before attempting to eliminate the Papuan insurgency groups.</em></p> 2021-05-04T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2021 Jurnal Ilmiah Hubungan Internasional