Riset Arsitektur (RISA) https://journal.unpar.ac.id/index.php/risa <p>eISSN<a title="eISSN RISA UNPAR" href="http://issn.pdii.lipi.go.id/issn.cgi?daftar&amp;1473904869&amp;1&amp;&amp;" target="_blank" rel="noopener"> 2548-8047</a> (Media Online)</p> <p>Tujuan dari jurnal ini adalah untuk menyediakan tempat bagi Skripsi-skripsi mahasiswa yang dibimbing oleh dosen-dosen dan disidangkan pula oleh 2 orang dosen jurusan Arsitektur Universitas Katolik Parahyangan lainnya. Skripsi-skripsi tersebut adalah hasil yang terbaik, dan dilakukan penilaian kembali oleh para reviewer lainnya (5 panel ahli diluar Universitas Katolik Parahyangan). Semua skripsi-skripsi tersebut dipresentasikan dalam bentuk seminar terbuka nasional. Dibagi dalam kelompok materi, Sejarah Teori dan Falsafah Arsitektur, Perumahan dan Permukiman, Arsitektur dan Tata Kota, serta Teknologi Manajemen gedung disajikan dalam Jurnal ini. Jurnal akan diterbitkan empat kali dalam setahun setiap 3 bulan.</p> id-ID risetarsitektur@gmail.com (Dr. Ir. Hartanto Budiyuwono, MT.) risetarsitektur@gmail.com (Dr. Ir. Hartanto Budiyuwono, MT.) Jum, 02 Apr 2021 16:14:04 +0700 OJS 3.2.1.0 http://blogs.law.harvard.edu/tech/rss 60 RELASI PURA BESAKIH DENGAN HOTEL THE APURVA KEMPINSKI BALI DITINJAU DARI TATA MASSA, TATA RUANG, DAN SOSOK BANGUNAN https://journal.unpar.ac.id/index.php/risa/article/view/4736 <p><strong>Abstrak</strong></p> <p><span style="font-weight: 400;">Persebaran agama Hindu di Pulau Bali dipercaya dimulai pada abad pertama Masehi oleh seorang pemuka agama Hindu asal India bernama Hyang Rsi Markandeya. Bagi orang Hindu, pura paling penting di Bali adalah Pura Besakih yang terletak dekat kaki Gunung Agung. Pura Penataran Agung Besakih merupakan pura pusat yang terletak di dalam kawasan Pura Besakih. Area Pura Penataran Agung dilingkupi oleh dinding dan memiliki tujuh mandala atau tingkatan. Sosok Pura Besakih merupakan cerminan arsitektur Indonesia kuno peninggalan nenek moyang kita yang masih dapat ditemukan dan dipelihara pada jaman modern ini.</span></p> <p><span style="font-weight: 400;">Di sisi lain, arsitektur modern turut berkembang pesat di Indonesia, terutama dibidang pariwisata di Pulau Bali. Hotel The Apurva Kempinski Bali dirancang oleh arsitek Budiman Hendropurnomo dari Duta Cermat Mandiri Jakarta. Hotel resor ini menerapkan konsep perpaduan antara arsitektur kuno dan modern. Sejauh mana citra Pura Besakih dapat diadaptasi ke dalam desain hotel The Apurva Kempinski Bali akan menjadi isi penelitian ini.</span></p> <p><span style="font-weight: 400;">Penelitian ini menggunakan metode komparatif dengan pendekatan kualitatif. Dalam studi ini, akan dicari persamaan dan perbedaan kedua objek ditinjau dari segi tata massa, tata ruang, dan sosok bangunan dengan didasari oleh teori prinsip penyusunan Francis D.K. Ching. Hasil penelitian ini menunjukkan kemiripan antara tata massa dan tata ruang Pura Penataran Agung Besakih pada hotel The Apurva Kempinski Bali dari segi sumbu, simetri, hirarki, datum, dan irama walaupun ada perbedaan dalam skala, proporsi, maupun fungsi. Hal ini membuktikan bahwa arsitektur kuno dapat menjadi inspirasi untuk rancangan arsitektur modern dengan cara diadaptasi dan dimodifikasi sesuai dengan fungsi, material, dan kebutuhan rancangan.</span></p> <p>&nbsp;</p> <p><strong>Kata Kunci:</strong><span style="font-weight: 400;"> pura, Bali, hotel, relasi, tata massa, tata ruang, sosok bangunan</span></p> Natasha Octavian Namoru ; Yuswadi Saliya Hak Cipta (c) 2021 Riset Arsitektur (RISA) https://journal.unpar.ac.id/index.php/risa/article/view/4736 Jum, 02 Apr 2021 00:00:00 +0700 STUDI KUALITAS SINEMATIK DALAM BIOSKOP METROPOLE https://journal.unpar.ac.id/index.php/risa/article/view/4737 <p><strong>Abstrak</strong></p> <p><span style="font-weight: 400;">Film dan arsitektur adalah dua bentuk seni taktil yang bergantung pada beberapa indera manusia sekaligus untuk dapat dinikmati. Walaupun begitu, kesamaan antara arsitektur dan film seringkali diabaikan ketika mendesain atau mengapresiasi sebuah objek arsitektur. Dengan melakukan studi mengenai hubungan film dengan arsitektur, ditemukan bahwa ada kualitas-kualitas pada arsitektur yang berdasar pada konsep-konsep pada perfilman yang dapat memperkaya dan memanipulasi ruang tempat manusia beraktivitas. Kualitas-kualitas unik ini disebut sebagai kualitas sinematik. Namun, melihat ruang lewat sinema dapat memberikan kesan yang berbeda dibanding mengalami ruang secara langsung. Kesamaan dan perbedaan ini berasal dari pengalaman sinematik yang berbeda pada waktu mengalami ruang secara fisik dengan mengalami ruang lewat film yang sudah disunting.</span></p> <p><span style="font-weight: 400;">Untuk memahami topik sinematik dalam arsitektur lebih lanjut, dilakukan studi pada objek arsitektur Bioskop Metropole. Objek arsitektur ini unik karena Bioskop Metropole pernah menjadi latar tempat utama pada film roman-komedi Janji Joni. Penampilan bioskop di dalam film tersebut dan penampilan bioskop di dunia nyata mungkin memiliki perbedaan, dan kualitas sinematik adalah penentu perbedaan tersebut</span></p> <p><span style="font-weight: 400;">Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahu kualitas sinematik di bioskop Metropole, bagaimana kualitas sinematik tersebut memengaruhi representasi ruang-ruang Bioskop Metropole dalam film Janji Joni, dan kualitas sinematik apa saja yang ada pada Bioskop Metropole. Metode yang digunakan adalah deksriptif kualitatif, dengan data dari studi literatur dan observasi objek di lapangan. Studi ini mencapai kesimpulan bahwa terdapat kualitas-kualitas sinematik tertentu pada Bioskop Metropole, walaupun dalam derajat yang berbeda dengan yang ditunjukan dalam film Janji Joni.</span></p> <p>&nbsp;</p> <p><strong>Kata Kunci:</strong><span style="font-weight: 400;"> sinematik, kualitas sinematik, Janji Joni, Jakarta</span></p> Amyra Salsabila Alwi ; Caecilia S. Wijayaputri Hak Cipta (c) 2021 Riset Arsitektur (RISA) https://journal.unpar.ac.id/index.php/risa/article/view/4737 Jum, 02 Apr 2021 00:00:00 +0700 STUDI ANALOGIS ARSITEKTUR DAN MUSIK BAROK https://journal.unpar.ac.id/index.php/risa/article/view/4738 <p><strong>Abstrak</strong></p> <p><span style="font-weight: 400;">Spasialitas dapat kita persepsikan melalui penglihatan. Demikian pula pendengaran kita dapat mempersepsikan spasialitas.</span></p> <p><span style="font-weight: 400;">Hal ini menunjukkan adanya relasi antara arsitektur dan musik. Keduanya adalah bidang seni dan keduanya berkaitan dengan makna dan keindahan sehingga memiliki suatu dasar estetika tertentu. Keduanya merupakan hasil dari perkembangan kultur manusia sehingga menunjukkan bagaimana manusia hidup dan bagaimana pandangan manusia terhadap hidup itu sendiri.</span></p> <p><span style="font-weight: 400;">Penelitian ini akan menjelajahi masa Barok untuk mencari analogi kualitatif antara persepsi auditorial dan persepsi visual melalui manifestasi seni Barok, yakni arsitektur dan musik zaman Barok. Dengan metode analisis analogis, penelitian ini ditujukan untuk mencari korelasi antara keduanya dengan bantuan sistem representasi. Melalui penelitian ini, peneliti menemukan adanya keterkaitan dalam soal pola bentuk, tekstur, dan artikulasi antara arsitektur dan musik Barok yang membuktikan adanya dasar estetika yang sama. Penemuan ini diharapkan dapat memberi arsitektur dan musik lebih banyak pemahaman tentang disiplinnya masing-masing, dan juga memberi cara baru berpikir melalui perenungan akan yang lampau.</span></p> <p>&nbsp;</p> <p><strong>Kata Kunci:</strong><span style="font-weight: 400;"> analogis, barok, arsitektur dan musik, bentuk dan ruang, spasialitas, tekstur, artikulasi</span></p> Jevon Hosea Thenadi ; Roni Sugiarto Hak Cipta (c) 2021 Riset Arsitektur (RISA) https://journal.unpar.ac.id/index.php/risa/article/view/4738 Jum, 02 Apr 2021 00:00:00 +0700 DESKRIPSI ARSITEKTURAL SITUS KI BUYUT TRUSMI DESA TRUSMI, CIREBON https://journal.unpar.ac.id/index.php/risa/article/view/4739 <p><strong>Abstrak</strong></p> <p><span style="font-weight: 400;">Kebudayaan merupakan pandangan hidup dari sekelompok orang dalam bentuk perilaku, kepercayaan, nilai, dan simbol-simbol yang mereka terima tanpa sadar yang semuanya diwariskan melalui proses komunikasi dari satu generasi ke generasi berikutnya (Liliweri 2002: 8) dan kebudayaan tersusun oleh kategori-kategori kesamaan gejala umum yang disebut adat istiadat yang mencakup teknologi, pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, estetika, rekreasional dan kemampuan-kemampuan serta kebiasaan-kebiasaan yang didapatkan manusia sebagai anggota masyarakat (Liliweri 2002: 62).</span></p> <p><span style="font-weight: 400;">Tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan arsitektural Situs Ki Buyut Trusmi yang masih dijaga oleh warga setempat, dilihat kebudayaannya dari aspek </span><em><span style="font-weight: 400;">Religion and</span></em> <em><span style="font-weight: 400;">Beliefs, Rite and Ceremonial, Gender Roles, Domestic Routine, dan Social Structure </span></em><span style="font-weight: 400;">dan</span> <span style="font-weight: 400;">bagaimana keterkaitannya wujud arsitektural Situs Ki Buyut Trusmi terhadap pengaruh aktivitas kebudayaan di dalamnya.</span></p> <p><span style="font-weight: 400;">Data penelitian diperoleh melalui observasi, wawancara, dan studi literatur. Data kemudian dianalisis menggunakan metode kualitatif deskriptif untuk mendeskripsikan bangunan-bangunan yang membentuk ruang secara arsitektural yang terbentuk akibat pengaruh aktivitas kebudayaan dan bagaimana pemanfaatan ruang yang terbentuk dari pengaruh tersebut untuk aktivitas kesehariannya.</span></p> <p><span style="font-weight: 400;">Hasil penelitian menunjukan bahwa aktivitas kebudayaan merupakan faktor utama dalam mempengaruhi orientasi bangunan dan ruang-ruang yang ada sehingga aktivitas &nbsp; kesehariannya akan memanfaatkan ruang yang terbentuk dari kebudayaan yang ada. Selain itu, kebudayaan membuat adanya bentuk stuktur sosial yang mengajarkan harus menghormati orang yang lebih tua dan harus taat kepada Sang Pencipta.</span></p> <p><br><strong>Kata Kunci: </strong><span style="font-weight: 400;">Kebudayaan, pembentuk ruang, aktivitas keseharian, Situs Ki Buyut Trusmi</span> <span style="font-weight: 400;">,Cirebon</span></p> Ricky Setiawan ; Franseno Pujianto Hak Cipta (c) 2021 Riset Arsitektur (RISA) https://journal.unpar.ac.id/index.php/risa/article/view/4739 Jum, 02 Apr 2021 00:00:00 +0700 POLA TATANAN MONUMENTAL ISLAMI PADA ARSITEKTUR MASJID ISTIQLAL https://journal.unpar.ac.id/index.php/risa/article/view/4740 <p><strong>Abstrak</strong></p> <p><span style="font-weight: 400;">Arsitektur monumental keagamaan terjadi bukan hanya karena karya arsitektur dapat menjadi simbol yang bermakna semata, tetapi juga karena konsolidasi identitas nasional, terutama di negara-negara pascakolonial, dapat terjadi atas faktor agama. Arsitektur keagamaan memiliki kemampuan untuk mengekspresikan yang 'tak terkatakan' dan transenden. Arsitektur keagamaan dapat mewujudkan citra keagamaan masyarakat yang dirumuskan melalui kerangka referensi yang didominasi oleh inti budaya dari pandangan dunia, etika, dan kepercayaan. Di saat bersamaan, masjid sebagai ruang ritual tidak hanya menjadi tempat bagi orang-orang percaya, tetapi juga bangunan monumental yang mewakili kebesaran sifat kepentingan yang berkuasa. Penelitian-penelitian sebelumnya masih banyak yang mendefinisikan masjid secara tradisional, yakni sebagai pusat tempat beribadah tanpa spesifikasi lebih lanjut. Penyederhanaan ini mendominasi analisis masjid pada umumnya, sehingga tampak mengesampingkan aspek-aspek lain yang juga ditampakkan dalam bangunan.</span></p> <p><span style="font-weight: 400;">Penelitian ini bertujuan untuk mencari pola tatanan monumental Islami yang terwujud pada arsitektur Masjid Istiqlal. Masjid Istiqlal dipilih sebagai kasus studi karena dinilai signifikan sebagai karya arsitektur monumental keagamaan yang dibangun sebagai bentuk perwujudan identitas nasional Indonesia. Sesudah pengakuan kemerdekaan Republik Indonesia pada tahun 1949, muncul ide untuk membangun masjid negara sebagai wajah identitas nasional, mengingat Indonesia merupakan negara dengan populasi umat Islam terbanyak di dunia. Dalam Masjid Istiqlal terwujud desain monumental yang tidak hanya mewujudkan visi dan gagasan Islami tetapi juga memainkan peran nyata dalam pengejawantahan visi nasional negara. Penelitian akan mengedepankan isu pola tatanan dari bentuk arsitektur yang memiliki peran monumental sekaligus berfungsi sebagai bangunan keagamaan.</span></p> <p><span style="font-weight: 400;">Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian bersifat kualitatif dengan pendekatan deskriptif-analitis. Menggunakan pendekatan deskriptif-analitis, penelitian diawali dengan melakukan pendataan properti dan komposisi pembentuk monumental Islami lewat studi teori-teori terkait: teori arsitektur masjid, teori properti dan komposisi, dan teori lingkup. Data lapangan dikumpulkan dengan cara studi pustaka dan pengamatan objek studi kemudian dilengkapi dengan hasil wawancara. Analisis akan dibagi dalam tiga lingkup, terdiri dari lingkup lingkungan, lingkup tapak, dan lingkup bentuk, untuk mencari tahu apa pola tatanan monumental Islami yang terwujud pada arsitektur Masjid Istiqlal.</span></p> <p>&nbsp;</p> <p><strong>Kata Kunci: </strong><span style="font-weight: 400;">pola tatanan, masjid, monumental, Islami, properti, komposisi, lingkup</span></p> Ruth Dea Juwita ; Indri Astrina Hak Cipta (c) 2021 Riset Arsitektur (RISA) https://journal.unpar.ac.id/index.php/risa/article/view/4740 Jum, 02 Apr 2021 00:00:00 +0700 TAMAN TEMATIK DAN PENGARUHNYA TERHADAP SETTING FISIK DAN PENGGUNAAN TAMAN DI KOTA BANDUNG https://journal.unpar.ac.id/index.php/risa/article/view/4741 <p><strong>Abstrak</strong></p> <p><span style="font-weight: 400;">Perkembangan Kota Bandung sebagai kota kreatif, mendorong pemerintah untuk melakukan inovasi terhadap keberadaan ruang terbuka publik.Munculnya taman tematik berhasil menarik perhatian masyarakat terhadap keberadaan taman-taman yang ada di Kota Bandung. Lalu apa yang sebenarnya dimaksud dengan taman tematik dan mengapa tema menjadi sesuatu yang perlu diberikan pada taman-taman yang sudah ada sebelumnya. Mengingat taman tematik yang ada saat ini merupakan pengembangan dari taman-taman lingkungan (neighborhood park). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengertian dari taman tematik dan pengaruhnya terhadap&nbsp; setting fisik taman dan penggunaan sebuah ruang terbuka publik.&nbsp;</span></p> <p><span style="font-weight: 400;">&nbsp;Penelitian menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif dengan cara mendeskripsikan keadaan taman lansia, taman superhero, taman hewan, taman cibeunying, dan alun-alun cicendo. Data dikumpulkan dengan cara observasi lapangan dan dilengkapi dengan penyebaran kuisioner online untuk mendapatkan data kuantitatif.Pengertian mengenai taman tematik ditelaah&nbsp; berdasarkan litelatur yang didapatkan dari Koran dan sumber infomasi lainnya yang membahas mengenai taman tematik di Kota bandung. Kemudian pembahasan mengenai taman tematik akan ditelaah lebih lanjut dengan teori-teori yanga ada pada landasan teori.&nbsp;</span></p> <p><span style="font-weight: 400;">Hasil dari penelitian ini menyatakan bahwa tema yang diberikan pada taman layaknya tema yang digunakan dalam sebuah cerita,&nbsp; tema berfungsi sebagai acuan dalam mengolah ruang terbuka yang ditampilkan lewat setting fisik taman. Fisik taman yang hadir melalui fasilitas turut mempengaruhi aktivitas yang terjadi didalam taman, dimana aktivitas mengarah pada tema yang diberikan pada taman tersebut. Taman tematik menjadi pengembangan ruang terbuka publik yang terinspirasi dari konsep theme park.Namun berbeda dengan theme park, taman tematik yang ada di Kota Bandung terbuka bagi masyarakat umum sehingga tidak bersifat komersil.</span></p> <p><br><strong>Kata-kata kunci</strong><span style="font-weight: 400;">: ruang publik, taman tematik, aktivitas sosial, taman di Kota Bandung</span></p> Julius Santanu Wijaya ; Yohanes Basuki Dwisusanto Hak Cipta (c) 2021 Riset Arsitektur (RISA) https://journal.unpar.ac.id/index.php/risa/article/view/4741 Jum, 02 Apr 2021 00:00:00 +0700