Riset Arsitektur (RISA) https://journal.unpar.ac.id/index.php/risa <p>eISSN<a title="eISSN RISA UNPAR" href="http://issn.pdii.lipi.go.id/issn.cgi?daftar&amp;1473904869&amp;1&amp;&amp;" target="_blank" rel="noopener"> 2548-8047</a> (Media Online)</p> <p>Tujuan dari jurnal ini adalah untuk menyediakan tempat bagi Skripsi-skripsi mahasiswa yang dibimbing oleh dosen-dosen dan disidangkan pula oleh 2 orang dosen jurusan Arsitektur Universitas Katolik Parahyangan lainnya. Skripsi-skripsi tersebut adalah hasil yang terbaik, dan dilakukan penilaian kembali oleh para reviewer lainnya (5 panel ahli diluar Universitas Katolik Parahyangan). Semua skripsi-skripsi tersebut dipresentasikan dalam bentuk seminar terbuka nasional. Dibagi dalam kelompok materi, Sejarah Teori dan Falsafah Arsitektur, Perumahan dan Permukiman, Arsitektur dan Tata Kota, serta Teknologi Manajemen gedung disajikan dalam Jurnal ini. Jurnal akan diterbitkan empat kali dalam setahun setiap 3 bulan.</p> id-ID risetarsitektur@unpar.ac.id (Dr. Ir. Hartanto Budiyuwono, MT.) risetarsitektur@gmail.com (Dr. Ir. Hartanto Budiyuwono, MT.) Sel, 05 Jul 2022 11:21:01 +0700 OJS 3.2.1.2 http://blogs.law.harvard.edu/tech/rss 60 PRINSIP TOD MULTILEVEL SEBAGAI LANDASAN RENEWAL TERMINAL BUS LEUWIPANJANG https://journal.unpar.ac.id/index.php/risa/article/view/5938 <p><strong>Abstrak</strong> <strong>– </strong>Saat ini Kota Bandung perlu membenahi infrastrukur dan prasarana transportasi umum dalam upaya mempersiapkan kehadiran kereta cepat yang memiliki stasiun utama di Tegal Luar, Kawasan Gedebage. Dengan hadirnya kereta cepat di Kota Bandung, tentu akan mempengaruhi percepatan distribusi penumpang dan barang di dalam kota. Intensitas perpindahan tersebut perlu didukung dengan infrastruktur jaringan transportai yang dapat terintegrasi dengan baik, salah satunya dengan penerapan sistem <em>Transit Oriented Development</em> (TOD) <em>Multi-level</em> di Terminal Leuwipanjang, Bandung. Terminal Leuwipanjang masih menerapkan sistem layanan transportasi <em>single-level</em>, yang berarti belum cukup efisien dan efektif dalam menunjang percepatan layanan transpotasi umum yang direncanakan, terutama transportasi umum berbasis <em>multi-level</em> seperti yang terencana dalam <em>Bandung Urban Mobilty Project</em>. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi Desain Terminal Leuwipanjang agar menjadi salah satu <em>TOD</em> yang layak sebagai pendukung Stasium Tegal Luar yang menjadi perhentian kereta cepat Bandung-Jakarta melalui metode eksploratif-analitik-komparatif yang mendukung konsep <em>Multi-Level</em>. Diperoleh kesimpulan mengenai kondisi Terminal Leuwipanjang memerlukan penyesuaian menghadapi kehadiran kereta cepat yang memiliki pintu masuk di Stasiun Tegal Luar, Kawasan Gedebage.</p> <p>&nbsp;</p> <p><strong>Kata kunci:</strong> infrastruktur, prasarana transpotasi umum, <em>TOD</em> <em>Multi-Level</em>, Terminal Leuwipanjang</p> Andreas Tirta, Yohannes Karyadi Kusliansjah Hak Cipta (c) 2022 Andreas Tirta http://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0/ https://journal.unpar.ac.id/index.php/risa/article/view/5938 Sel, 05 Jul 2022 00:00:00 +0700 PELESTARIAN BUDAYA DAYAK DALAM ARSITEKTUR MASA KINI PADA PERANCANGAN KANTOR GUBERNUR DI KALIMANTAN https://journal.unpar.ac.id/index.php/risa/article/view/5940 <p><strong>Abstrak<em> - </em></strong>Fenomena Bangunan Pemerintahan di Kalimantan saat ini&nbsp; ditandai dengan maraknya penggunaan langgam arsitektur tradisional Huma Betang. Langgam ini merupakan rumah adat masyarakat Kalimantan yang sering di sebut &nbsp;rumah panjang karena bentuknya yang berderet memanjang. Penggunaan langgam Huma Betang &nbsp;pada bangunan pemerintahan cenderung hanya meniru wujud asli Huma Betang semata tanpa mempertimbangkan makna yang terkandung di dalamnya. Tujuan penelitian ini adalah menggali, relasi suatu bentuk dan makna yang terdalam. Dengan demikian penggunaan dan penerapan ini dengan &nbsp;konsep tradisonal huma betang diharapkan tidak menyimpang makna asalnya. Penelitian ini menelusuri Arsitektur Tradisional huma Betang dan filosofi terkandung di dalamnya. &nbsp;Metode dalam penelitian ini adalah metode penafsiran jadi relasi tradisi membangun dengan bentuk dan susunan struktur konstruksi Huma Betang. Penelusuran menggunakan gabungan prinsip anatomi bangungan dengan tradisi budaya. Kesimpulan yang didapat dari penelitian ini adalah pemahaman esensi aritektur tradisional dalam tradisi membangun Huma Betang yang berdasarkan adat setempat. Dengan demikian tipologi ini dapat dielaborasi digunakan sebagai pedoman dalam perancangan kantor pemerintahan.</p> <p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;</p> <p><strong>Kata kunci:</strong> arsitektur tradisional, rumah Betang, pelestarian arsitektur.</p> Gerry Ronald, Alwin S. Sombu Hak Cipta (c) 2022 Gerry Ronald http://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0/ https://journal.unpar.ac.id/index.php/risa/article/view/5940 Sel, 05 Jul 2022 00:00:00 +0700 AKULTURASI ARSITEKTUR TRADISIONAL DAN MODERN PADA BANGUNAN KLENTENG SATYA BUDHI DI BANDUNG https://journal.unpar.ac.id/index.php/risa/article/view/5941 <p><strong>Abstrak</strong> <strong>– </strong>Indonesia merupakan negara kesatuan yang mempunyai berbagai macam etnis dan kebudayaan. Klenteng merupakan bangunan peribadatan untuk masyarakat minoritas karena jumlahnya tidak terlalu banyak dan tersebar di berbagai wilayah di Indonesia. Klenteng menggunakan konsep akulturasi arsitektur yang mengkombinasikan antara unsur tradisional dan unsur modern yang banyak diterapkan, salah satunya adalah Klenteng Satya Budhi di Bandung. Dalam metode desain pada bangunan harus menerapkan unsur tradisional karena merupakan usaha untuk melestarikan atau mempertahankan kebudayaan tersebut pada zaman sekarang. Dalam studi kasus Klenteng Satya Budhi akan mendeskripsikan antara unsur tradisional dan unsur modern berdasarkan konsep tapak, tatanan massa, susunan ruang, struktur konstruksi dan ornamentasi. Sesudah itu, akan mendapatkan aspek yang mendominasi antara unsur tradisional dan unsur modern berdasarkan bagian utama pada bangunan. Hasil dari proses akan memperlihatkan dominasi dalam menerapkan unsur tradisional dan unsur modern pada Klenteng Satya Budhi. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif yang mendeskripsikan studi kasus, metode analitis yang menganalisa studi kasus berdasarkan teori dan metode interpretatif dalam menghasilkan kesimpulan yang merupakan usaha untuk memahami dominasi antara unsur tradisional dan unsur modern berdasarkan metode desain. Serta, untuk mendefinisikan konsep akulturasi arsitektur yang digunakan melalui desain bangunan peribadatan.</p> <p>&nbsp;</p> <p><strong>Kata kunci:</strong> akulturasi arsitektur, arsitektur tradisional, arsitektur modern, Klenteng Satya Budhi.</p> Hendra Hartarto Sugianto, Bachtiar Fauzy Hak Cipta (c) 2022 Hendra Hartarto Sugianto http://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0/ https://journal.unpar.ac.id/index.php/risa/article/view/5941 Sel, 05 Jul 2022 00:00:00 +0700 AKULTURASI ARSITEKTUR LOKAL DAN MODERN PADA DESAIN ANTWERPEN-CENTRAAL (ANTWERP CENTRAL) RAILWAY STATION, BELGIA https://journal.unpar.ac.id/index.php/risa/article/view/5942 <p><strong>Abstrak </strong>- Perkembangan zaman berdampak pada seluruh aspek termasuk juga perkembangan pada sektor transportasi, stasiun yang melayani penumpang pada bidang transportasi darat pun terkena dampak daripada gaya modernisasi. Perkembangan zaman yang dimaksud ialah modernisasi, dimana semua ingin bergerak cepat dan praktis. Gaya modern berdampak pada perkembangan gaya arsitektur dengan kata lain pergeseran akan gaya asli dari suatu bangunan tersebut tergeserkan dengan adanya gaya baru yakni gaya modern. Tujuan penelitian ini ialah untuk mengetahui dan memahami konsep akulturasi yang terjadi pada bangunan stasiun Antwerp, mengetahui unsur yang memperngaruhinya dan menghasilkan simpulan daripada objek studi yang terbahas yaitu pada stasiun Antwerp Centraal Station. <strong>&nbsp;</strong>Metode penelitian yang digunakan ialah metode kualitatif, dimana bertujuan untuk melihat nilai yang terkandung dari fisik bangunan tersebut. Dilanjutkan dengan metode deskriptif, dimana data yang didapat dihimpun sesuai dengan penelitian yang dilakukan yang disesuaikan dengan teori yang digunakan. Sehingga dihasilkan hasil akhir berupa simpulan dari hasil analisa yang sudah dilakukan. Manfaat yang diharapkan adalah mampu menambah keilmuan dan pengetahuan dari para pembaca akan penelitian yang telah dilakukan peneliti.</p> <p>&nbsp;</p> <p><strong>Kata kunci:</strong> akulturasi, arsitektur, bangunan stasiun dan stasiun Antwerp Centraal.</p> Iman Aji, Bachtiar Fauzy Hak Cipta (c) 2022 Iman Aji http://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0/ https://journal.unpar.ac.id/index.php/risa/article/view/5942 Sel, 05 Jul 2022 00:00:00 +0700 PENERAPAN KONSEP SENTRALITAS PADA KERATON SURAKARTA HADININGRAT https://journal.unpar.ac.id/index.php/risa/article/view/5943 <p><strong>Abstrak - </strong>Keraton merupakan sebuah kompleks arsitektur bersejarah dengan fungsi sebagai tempat tinggal penguasa dan keluarga kerajaan. Keraton memegang peranan penting dalam perkembangan sebuah kota khususnya kota-kota di Jawa. Bukan hanya berupa bangunan kediaman raja, keraton juga memiliki pengaruh dalam otoritas kehidupan masyarakat sebagai bangunan pemerintahan. Seiring berkembangnya zaman, keraton tidak lagi menjadi entitas pemerintahan yang menggeser peran dan aspek fungsionalnya. Di Indonesia, keraton dipandang sebagai obyek sejarah yang memiliki kekayaan sejarah, budaya, dan agama. Faktor ini membentuk sebuah peran baru keraton sebagai pusat kebudayaan pengetahuan dan keagamaan. Keraton Surakarta Hadiningrat merupakan salah satu keraton yang masih berfungsi sebagai kediaman raja dan keraton peninggalan Mataram Kuno yang turut mengalami fenomena pergeseran fungsi. Keraton sebagai sebuah kompleks dengan berbagai peran kepusatan yang dimilikinya tidak hanya tercermin dari fungsinya, melainkan juga dari pola tatanan massa keraton. Tujuan penelitian untuk mengidentifikasi dan mengklasifikasi pola tatanan arsitektural Keraton Surakarta Hadiningrat serta peran sentralitas yang terkandung didalamnya.</p> <p>Penelitian kualitatif dengan pendekatan descriptive dan textual analysis digunakan untuk mendeskripsikan konsep sentralitas yang terdapat pada keraton. Konsep sentralitas Christopher Alexander diintegrasikan dengan konsep-konsep kosmologi yang melandasi pola tatanan Keraton Surakarta Hadiningrat untuk mengetahui alasan terbentuknya pola tatanan massa yang mencirikan sentralitas dan pengaruhnya terhadap keraton sebagai sebuah bangunan sentralitas. Data sentralitas yang diperoleh dengan observasi lapangan dan studi pustaka dikelompokkan menjadi dua bagian konsentrasi analisis, yaitu hubungan tatanan keraton terhadap Kota Surakarta (skala makro) dan tujuh lapisan Jambudvipa dalam keraton termasuk atap tradisional pada keraton (skala mikro).</p> <p>Temuan penelitian membuktikan keraton memegang peranan penting dalam tata sebuah kota dengan berlandaskan konsep Catur Gatra Tunggal yang selalu dapat ditemui pada kota Jawa. Temuan sejarah dan budaya menjadi tiang pembentuk Kota Surakarta setelah keberadaan keraton. Temuan konsep sentralitas yang terdapat pada keraton juga memiliki intensitas yang berbeda-beda terkait dengan fungsi dan posisi bangunannya serta terhadap konsep kosmologi yang terdapat pada keraton. Temuan tersebut membuktikan tatanan keraton memiliki hierarki utama tunggal terhadap Kedhaton yang menjadi inti dari Keraton Surakarta Hadiningrat. Meskipun keraton memiliki pusat-pusat pembentuk lapisan yang memiliki kualitas sentralitas tersendiri, peran setiap pusat kecil tersebut menegaskan keutamaan Kedhaton sekaligus memperkuat kualitas sentralitas. Tentunya, hubungan antar tiap lapisan sangat erat dalam membentuk sebuah entitas kesatuan arsitektural.</p> <p><strong>&nbsp;</strong></p> <p><strong>Kata Kunci: </strong>sentralitas, pola tatanan, keraton, kosmologi, Surakarta, Jawa tengah</p> Denny Winata, Indri Astrina Hak Cipta (c) 2022 Denny Winata http://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0/ https://journal.unpar.ac.id/index.php/risa/article/view/5943 Sel, 05 Jul 2022 00:00:00 +0700 PENERAPAN DYNAMIC FACADE DENGAN SENSOR SUHU SEBAGAI UPAYA MENINGAKATKAN KENYAMANAN TERMAL RUANG DALAM https://journal.unpar.ac.id/index.php/risa/article/view/5946 <p><strong>Abstrak - </strong>Fasad merupakan salah satu elemen pada arsitektur yang memiliki peran terhadap kenyamanan termal ruang dalam bangunan. Fasad memiliki beragam bentuk dan jenis yang mempunyai peranannya masin-masing. Seiring berkembangnya teknologi fasad dapat dikembangkan dengan bantuan teknik mesin, industri, maupun teknik komputer. Salah satunya adalah dynamic facade pada bangunan Al Bahar, Abu Dhabi yang menggunakan teknologi seperti computer programming untuk mengatur besar bukaan fasad terhadap iklim yang dibaca oleh sensor panas yang memiliki dampak pengurangan panas pada ruang dalam bangunan dan pengurangan energi untuk keperluan penghawaan buatan / penyejuk ruangan.Bentuk lipatan segitiga yang dirancang dapat menutup dan membuka secara penuh untuk kepentingan visual pada ruang dalamnya. Diperkirakan fasad tersebut mampu mengurangi lebih dari 50 persen panas yang masuk dan mengurangi kebutuhan pendingin udara dalam gedung.</p> <p>Tujuan penelitian ini adalah mempelajari cara kerja dari dynamic facade yang menggunakan teknologi komputer dan juga meneliti penggunaan material fasad polikarbonat dan aluminium yang efektif untuk digunakan dalam fasad dinamis pada iklim tropis Indonesia.Penelitian menggunakan metode kuantitatif dan eksperimental rancangan maket fasad. Dilakukan eksperimen pembuatan maket fasad yang mampu bergerak serupa dengan pergerakan fasad Mashrabiya, Al Bahar yang membutuhkan program dan coding komputer untuk mendukung pergerakan yang adaptif terhadap iklim sekitar. Penelitian menguji pergerakan fasad terhadap temperatur panas matahari pada iklim tropis Jakarta, data iklim diperoleh dari data BMKG.</p> <p><strong>&nbsp;</strong></p> <p><strong>Kata Kunci:</strong> adaptif, dinamis, fasad, termal</p> Thomas Raffael Kwa, Wulani Enggar Sari Hak Cipta (c) 2022 Thomas Raffael Kwa http://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0/ https://journal.unpar.ac.id/index.php/risa/article/view/5946 Sel, 05 Jul 2022 00:00:00 +0700