TATANAN https://journal.unpar.ac.id/index.php/tatanan Jurnal Arsitektur TATANAN adalah jurnal yang diterbitkan oleh Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Katolik Parahyangan. Terbit setiap 6 bulan sekali, pada bulan Juni dan Desember. Tujuan penerbitan jurnal ini adalah sebagai wadah komunikasi ilmiah, dan untuk menyebarluaskan hasil-hasil penelitian arsitektur. Tema artikel pada jurnal Arsitektur TATANAN ini dibatasi pada topik yang berkaitan dengan tatanan arsitektur. en-US yasmin@unpar.ac.id (Yasmin Suriansyah) wulan.enggar@unpar.ac.id (Wulani Enggar Sari) Thu, 31 Dec 2015 00:00:00 +0700 OJS 3.2.1.2 http://blogs.law.harvard.edu/tech/rss 60 PENERAPAN SISTEM MODULAR PADA PERANCANGAN BANGUNAN MULTI-FUNGSI BERTINGKAT https://journal.unpar.ac.id/index.php/tatanan/article/view/1877 <p><strong><em>Abstract</em></strong></p><p class="isiabstrak"><em>Vertical Multi-Use Building (called BMFB) is a single building with multiple functions therein are arranged vertically. BMFB has a high level of function complexity and the demands of change and development of each of these functions, so that it is necessary to have the design of functional space system with high flexibility. To obtain the building design with high flexibility, the functional space and the building structure system can not be seen separately, but must be designed in an integrated way. Modular building system can be a media to integrate the functional space and structure system to meet the demands of flexibility in the building. The building function on BMFB of this research is the function of parking, office functions and functions of residential and also the structure system is limited to the conventional structure system (rigid frame system and wall bearing system).</em></p><p class="isiabstrak"><em>Research is done in stages, starting from the analysis of basic grid module which integrating the dimensions of human activity module and the dimensions of building materials. Followed by the analysis of functional space planning grid module and analysis of structural grid module, it will be integrated into the design grid of BMFB. The result of the analysis is concluded in the form of the design guidelines of BMFB.</em></p><p class="isiabstrak"><em>Implementation of the modular system will facilitate and accelerate the design process to integrate the functional space system between function and to integrate the functional space system and structure system, so that it can produce a suitable design for each function in it so the design can fulfill the demands of change, development and integration of these functions. In addition, the implementation of this modular system has a positive impact on the construction process which can minimize the use of materials and can be integrated effectively with prefabrication system.</em></p><p><em> </em></p><p><strong><em>Key Words: </em></strong><em>modular, grid, structure, spatial system, mixed used building </em></p><p><strong> </strong></p><p><strong>Abstrak</strong></p><p class="isiabstrak">Bangunan Multi Fungsi Bertingkat (BMFB) adalah bangunan tunggal dengan beberapa fungsi di dalamnya yang disusun secara vertikal. BMFB memiliki tingkat kompleksitas fungsi yang tinggi serta tuntutan untuk dapat mengakomodasi perubahan dan perkembangan dari setiap fungsi tersebut, sehingga memerlukan rancangan sistem ruang dengan fleksibilitas tinggi. Untuk memperoleh rancangan bangunan dengan fleksibilitas tinggi, sistem ruang dan struktur bangunan tidak dapat dipandang secara terpisah, melainkan harus secara terpadu. Sistem bangunan modular dapat menjadi media untuk mengintegrasikan sistem ruang dan struktur dalam memenuhi tuntutan fleksibilitas pada BMFB. Fungsi yang diakomodasi BMFB pada penelitian ini adalah parkir, kantor, serta hunian. Sistem struktur dibatasi pada sistem struktur konvensional (rangka/dinding pemikul).</p><p class="isiabstrak">Penelitian ini dilakukan secara bertahap, dimulai dari analisis modul grid dasar yang mengintegrasikan modul dimensi aktivitas manusia dan dimensi material bangunan, dilanjutkan dengan analisis modul grid perencanaan fungsi ruang dan analisis modul grid struktural, kemudian diintegrasikan menjadi grid perancangan BMFB. Hasil analisis disimpulkan dalam bentuk pedoman perancangan BMFB.</p><p class="isiabstrak">Penerapan sistem modular dalam perancangan akan mempermudah dan mempercepat proses perancangan dalam mengintegrasikan sistem ruang antar fungsi, serta sistem ruang dan sistem struktur sehingga dapat dihasilkan rancangan yang cocok untuk setiap fungsi (parkir, kantor dan hunian) dan dapat memenuhi tuntutan perubahan, pengembangan serta penggabungan dari fungsi-fungsi tersebut. Penerapan sistem modular berdampak positif terhadap proses pelaksanaan konstruksi, karena dapat mengefisienkan penggunaan material serta memungkinkan penerapan sistem prefabrikasi yang lebih efektif.</p><p> </p><p><strong>Kata Kunci: </strong>sistem modular, grid, sistem struktur, sistem ruang, bangunan multi fungsi</p> Anastasia Maurina Copyright (c) 2016 TATANAN https://journal.unpar.ac.id/index.php/tatanan/article/view/1877 Thu, 31 Dec 2015 00:00:00 +0700 EKSPRESI PANORAMA PADA KORIDOR JALAN TERKAIT EKSISTENSI JEMBATAN AMPERA KOTA PALEMBANG (STUDI KASUS: JALAN SUDIRMAN DAN JALAN RYACUDU) https://journal.unpar.ac.id/index.php/tatanan/article/view/1878 <p><strong><em>Abstract</em></strong></p><p class="Default"><em>Corridor is a space in a city that serves as a regional connection between one area with other areas. Sudirman Street and Ryacudu Street are corridors in the city of Palembang. Both of these streets are separated by Musi River and the corridors connected by Ampera Bridge. Panoramic sequences consisting of rhythm, proportion, and visual perception in this corridor should provide a good existence of the Ampera Bridge as a landmark of Palembang City. </em></p><p class="Default"><em>This research used a qualitative descriptive method to describes how the panoramic Sudirman Street and Ryacudu Street corridor associated with the existence of Ampera Bridge.The analysis of segment distribution of each corridor based on a sample section draw and sketching with the data processing method of the survey in the field. Based on observation, rhythm, proportion, and visual perception contained in the both of corridors are already giving panoramic related to the existence of Ampera Bridge. However, with the not orderly construction of fly-over and billboards, it is disturbing the exsistence of Ampera Bridge. Moreover, the panorama related to the existence of Ampera Bridge which initially be viewed from each corridor, began to fade. </em></p><p><em> </em></p><p><strong><em>Key Words: </em></strong><em>panoramic, rhythm, proportion, visual perception, corridor, Ampera Bridge</em><em></em></p><p><strong> </strong></p><p><strong>Abstrak</strong></p><p class="Default">Koridor merupakan salah satu ruang dalam sebuah kota yang berfungsi sebagai penghubung sebuah kawasan dengan kawasan lain. Jalan Sudirman dan Jalan Ryacudu merupakan koridor yang berada di kota Palembang. Kedua jalan ini dipisahkan oleh Sungai Musi dan sebagai koridor jalan dihubungkan oleh Jembatan Ampera. Rangkaian panorama yang terdiri dari irama, proporsi, dan persepsi visual pada koridor ini diharapkan memberikan tingkat eksistensi yang tinggi Jembatan Ampera sebagai <em>landmark</em> Kota Palembang.</p><p class="Default"> Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif yang berusaha menggambarkan bagaimana panorama koridor Jalan Sudirman dan Jalan Ryacudu terkait dengan eksistensi Jembatan Ampera. Pembagian segmen setiap koridor dianalisis berdasarkan sampel potongan gambar dan sketsa dengan metode pengolahan data dari hasil survey di lapangan. Berdasarkan hasil pengamatan: irama, proporsi, dan persepsi visual yang terdapat pada kondisi kedua koridor ini sudah memberikan panorama terkait eksistensi Jembatan Ampera. Namun, dengan adanya pembangunan jalan layang dan peletakan papan reklame yang tidak tertib, mengakibatkan eksistensi Jembatan Ampera terganggu. Selain itu panorama terkait keberadaan Jembatan Ampera yang pada awalnya terlihat dari setiap koridor, mulai memudar.</p><p> </p><p class="Default"><strong>Kata Kunci:</strong> panorama, irama, proporsi, persepsi visual, koridor, Jembatan Ampera</p> Roni Sugiarto, Rachman Muliawan Copyright (c) 2016 TATANAN https://journal.unpar.ac.id/index.php/tatanan/article/view/1878 Thu, 31 Dec 2015 00:00:00 +0700 LOMBA MAL DI BANDUNG MENUJU KEMAJUAN ATAU KEHANCURAN? https://journal.unpar.ac.id/index.php/tatanan/article/view/1879 <p><strong><em>Abstract</em></strong></p><p><em> Bandung, </em><em>like many</em><em> other major cities in Indonesia, aspires to be a vibrant, progressive city and a pride to its citizens. Stakeholders’ efforts to materialize that aspiration manifests physically in urban spaces as witnessed in Bandung. Admittedly, interpretations of that novel aspiration more than often are amiss</em><em>ed</em><em>ly executed.</em></p><p><em> Shopping centres (malls) as one of the types of built environment frequently revered as one of key investment items in a city are many times considered as symbol of progress and modernization. Along with that, ownership of motorized vehicles, residences, and other consumption materials strengthened the symbol. The rate of presence of malls in Bandung, increasing frequency and quality of traffic jams are some of the tangible indicators to underline the phenomenon. This, to some extent, increases the burden unto the city itself.</em></p><p><em> This paper aim</em><em> is</em><em> to study critically what such burden occurred. Specifically, this paper studies the change(s) of architectural and public space(s), occurred through the presence of malls in the spirit of capitalism, “modernity”, “progress”, in their relationship with their human citizens/users.</em></p><p><em> The method that used in this study is qualitative method, observation and reference study. It concluded that the current mall growth shifts the meaning of architectural space(s) into commodity, and public space(s) into quasi public space(s) which is private (essentially). </em></p><p><em> </em></p><p><strong><em>Key Words: </em></strong><em>malls, capitalism, car culture, spatial meaning, ma</em><em>n</em><em>–space relation</em><em></em></p><p> </p><p><strong>Abstrak</strong></p><p>Bandung, sebagaimana kota besar lain di Indonesia, memiliki aspirasi menjadi kota yang hidup, maju, dan menjadi kebanggaan warganya. Upaya berbagai pemangku kepentingan untuk mewujudkan aspirasi tersebut tertuang ke dalam manifestasi fisik pada ruang kota seperti yang dapat disaksikan langsung di Bandung. Patut diakui bahwa interpretasi atas aspirasi yang baik tersebut seringkali tidak tepat dalam eksekusinya.</p><p>Pusat perbelanjaan (mal) sebagai salah satu jenis lingkungan binaan yang sering dijadikan salah satu butir investasi utama di sebuah kota, sering dianggap pula sebagai simbol kemajuan dan modernisasi. Bersamaan dengan itu, kepemilikan kendaraan bermotor, rumah, dan benda-benda konsumsi lainnya hadir memperkuat simbol tersebut. Laju kehadiran mal di Bandung, peningkatan frekuensi dan kualitas kemacetan lalu lintas, menjadi beberapa indikasi kasat mata yang menegaskan fenomena tersebut. Sedikit banyak hal ini memberi beban kepada kota itu sendiri.</p><p>Tulisan ini bertujuan meninjau secara kritis beban seperti apakah yang timbul. Secara khusus, studi ini membahas perubahan yang ditimbulkan kehadiran mal dalam nafas kapitalisme, “modernitas”, “kemajuan” terhadap makna ruang arsitektur dan ruang publik dalam hubungannya dengan manusia warga/penggunanya.</p><p>Metode yang digunakan dalam tulisan ini adalah metode kualitatif, pengamatan langsung, dan studi literatur. Dapat disimpulkan bahwa gerak pertumbuhan mal yang terjadi sekarang ini menggeser pemaknaan ruang arsitektur ke arah komoditas, dan pengalihan ruang publik menjadi ruang <em>quasi</em> publik yang berhakekat privat.</p><p> </p><p><strong>Kata Kunci: </strong>mal, kapitalisme, budaya mobil, pemaknaan ruang, hubungan manusia-ruang</p> Budianastas Prastyatama Copyright (c) 2016 TATANAN https://journal.unpar.ac.id/index.php/tatanan/article/view/1879 Thu, 31 Dec 2015 00:00:00 +0700 KOMPARASI KINERJA ANTARA PANEL CERMIN DENGAN PANEL AKRILIK TRANSPARAN SEBAGAI KOLEKTOR CAHAYA PADA PIPA CAHAYA HORISONTAL https://journal.unpar.ac.id/index.php/tatanan/article/view/1880 <p><strong><em>Abstract</em></strong></p><p><em>On a typical multi-storey thick building, the use of natural lighting is often limited to penetration through window opening on building's facade. One of the methods developed to maximize penetration of natural light into multi-storey thick building is implementing light transport system by means of horizontal light pipe into building. By utilizing a light collector, such system directs sunlight down to specific rooms.</em></p><p><em> This research compares the efficiency of two passive light-redirecting collector models. The first model is made from a mirror panel, while the second one is made from a transparent acrylic panel. Both models were laboratory tested in a one-to-one scale horizontal light pipe model. The light source of this light pipe model is a spotlight. The two light collector models then observed to determine which one of the two is more efficient.</em></p><p><em> Based on the observation, it can be concluded that a light collector model made from a mirror panel has four times higher illumination level efficiency compares to a light collector model made from a transparent acrylic panel. </em></p><p><em> </em></p><p><strong><em>Key Words: </em></strong><em>light collector, mirror panel, transparent acrylic panel, horizontal light pipe</em></p><p><strong> </strong></p><p><strong>Abstrak</strong></p><p>Secara umum, penggunaan pencahayaan alami pada bangunan tebal bertingkat banyak terbatas pada penetrasi cahaya melalui bukaan jendela pada fasad bangunan. Salah satu metode untuk memaksimalkan penetrasi pencahayaan alami ke dalam bangunan tebal bertingkat banyak adalah dengan menerapkan sistem penyalur cahaya berupa pipa cahaya horisontal ke dalam sebuah bangunan. Dengan menggunakan kolektor cahaya, sistem tersebut menghantarkan sinar matahari langsung ke ruangan yang memerlukan.</p><p> Studi ini membandingkan tingkat efisiensi dari dua rancangan model kolektor cahaya pasif. Model pertama terbuat dari panel cermin dan model kedua terbuat dari panel akrilik transparan. Kedua model kolektor cahaya ini diuji di laboratorium dengan menggunakan sebuah model pipa cahaya horisontal berskala satu banding satu. Sumber cahaya pada model pipa cahaya horisontal ini adalah sebuah lampu sorot. Kedua model kolektor cahaya kemudian diamati dan dibandingkan efisiensinya.</p><p>Sebagai kesimpulan dari studi ini, model kolektor cahaya dari panel cermin memiliki efisiensi tingkat pencahayaan empat kali lebih besar dibandingkan dari model kolektor cahaya yang terbuat dari panel akrilik transparan.</p><p> </p><p><strong>Kata Kunci:</strong> kolektor cahaya, panel cermin, panel akrilik transparan, pipa cahaya horisontal</p> Ryani Gunawan Copyright (c) 2016 TATANAN https://journal.unpar.ac.id/index.php/tatanan/article/view/1880 Thu, 31 Dec 2015 00:00:00 +0700 PENGALAMAN INDERA SEBAGAI PENDEKATAN PERANCANGAN https://journal.unpar.ac.id/index.php/tatanan/article/view/1881 <p><strong><em>Abstract</em></strong></p><p class="Body"><em> The architecture which surrounds us influences our thought, and subsequently our behavior. The understanding of </em><em>the</em><em> relationship between the environment and our mind is important, p</em><em>articularly for designers of built-environments</em><em>. Our brain is not only hard-wired to interpret certain spatial characteristics in certain ways, but also plays a role in how we </em><em>make environmental</em><em> decisions. By designing with greater insight into how the human mind processes architecture, </em><em>professional designers</em><em> might be able to </em><em>help</em><em> occupants to live healthier, more meaningful and happier, as architectural qualities of an environment do trigger a wide variety of human response. The main idea is that our brain interprets architecture through our mind and plays a role in influencing our thoughts and subsequent behavior. </em><em></em></p><p class="Body"><em> </em><em>As architects, we should try to harness this understanding. The beautiful thing about architecture is that it can “tap into” an occupant’s past meaningful experiences through their senses and their emotion. Architecture also has the power set the stage for occupants to create new meaningful experiences -and memory plays a key role in helping to make all of this possible. Within architectural space it is important to establish a sense of place. This is true not only for the architecture to be good but also for our experience within that space to be memorable. In addition, architecture </em><em>can be defined as</em><em> a highly refined cultural </em><em>statement</em><em>. </em><em></em></p><p class="Body"><em> </em><em>Thus, this paper outlines a design thinking and design methods whose objectives are to develop a heightened understanding of the complex dialogue between behavior and architecture, and foster the type of analytical, critical, and creative abilities that are essential to addressing cultural</em><em> </em><em>diversity</em><em> and change. </em><em></em></p><p><em> </em></p><p><strong><em>Key Words: </em></strong><em>sense of place, environmental behavior, design methods</em></p><p><strong> </strong></p><p><strong>Abstrak</strong></p><p class="Body"> Arsitektur dalam kehidupan sehari-hari memberi pengaruh pada pikiran, dan secara tidak sadar kemudian mempengaruhi perilaku. Pemahaman akan hubungan antara lingkungan binaan dan pikiran manusia kemudian menjadi penting, terutama bagi perancang lingkungan binaan. Otak manusia tidak saja dapat menginterpretasi karakter spatial tertentu dengan cara tertentu, namun juga memiliki peran penting dalam cara manusia membuat keputusan desain. Melalui pemahaman yang lebih mendalam akan cara pikiran manusia memproses bentukan arsitektur, para perancang profesional dapat lebih mempengaruhi pengguna untuk hidup lebih sehat, lebih bermakna, dan lebih bahagia, karena kualitas arsitektur dalam lingkungan binaan secara nyata memicu keberagaman persepsi manusia. Ide utamanya adalah otak manusia menginterpretasi arsitektur melalui pikiran yang kemudian mempengaruhi perilaku.</p><p class="Body"> Sebagai arsitek kita memiliki kewajiban untuk memahami hubungan ini, di mana arsitektur dapat masuk ke dalam pikiran manusia sebagai bagian dari memori yang memiliki makna tertentu, melalui indera dan emosi. Arsitektur juga dapat berperan sebagai panggung untuk mendapatkan pengalaman ruang yang bermakna dengan bantuan dari memori. Oleh sebab itu diperlukan adanya sebuah rasa kepekaan akan ruang tidak hanya untuk keindahan sebuah bentukan arsitektur namun juga sebagai pengkayaan pengalaman ruang. Arsitektur dapat juga disebut sebagai sebuah pernyataan budaya.</p><p class="Body"> Penelitian ini kemudian membahas pemikiran desain dengan tujuan mengembangkan pemahaman akan hubungan perilaku dan arsitektur, secara analitis, kritis, dan kreatif untuk membawa kesadaran akan keragaman perseptual dan akhirnya perubahan pada metode perancangan.</p><p> </p><p><strong>Kata Kunci:</strong> kepekaan ruang, perilaku lingkungan, metode perancangan</p> Caecilia S. Wijayaputri Copyright (c) 2016 TATANAN https://journal.unpar.ac.id/index.php/tatanan/article/view/1881 Thu, 31 Dec 2015 00:00:00 +0700 POLA PELETAKAN GRID KOLOM STRUKTUR PADA PERANCANGAN BANGUNAN APARTEMEN (Studi Kasus: Apartemen Pinewood dan Metro Suite) https://journal.unpar.ac.id/index.php/tatanan/article/view/1882 <p><strong><em>Abstract</em></strong></p><p><em>Apartment has a primary function as a dwelling and has function support also.</em> <em>The most common function can be found in apartment include: parking function (usually located on basement floor), retail function (usually located on first floor), and dwelling function (usually located on top floor) with its circulation space. Each of it needs different space requirement and different demand space also.</em></p><p><em>Each function having different demand of space are arranged vertically in one structure system. To acquire apartment buildings with optimal space design, division of space must be integrated with structure. All function in apartment need to be analyzed functionally to get optimization in space allocation integrated with pattern of column structure layout.</em></p><p><em>Pattern of column layout in apartment building design is the integration between activity pattern and structure system. This study will asses the functions that typically found in an apartment: parking function, retail function, and dwelling function.</em></p><p><em>Research was done in five steps; there are literature study, observation, analysis, conclusion, and design recommendations. Literatur study used data and case study. Observation was done with direct observation. Analysis by qualitative and quantitative method was divided into three parts; there are analysis of basic grid planning, analysis of grid planning dimmension, analysis of structural grid. At the end the effective grid was found for apartement design as an effort to integrate planning pattern with structural pattern.</em></p><p><em>The research result shows: at parking function optimization grid is 6 m x 4,5 m, at retail function optimization grid is A m which is A ≥ 4 m, and at dwelling function optimization grid is 6 m x 4.5 m. So the effective grid in apartment building design is 6 m x 4.5 m.</em></p><p><em> </em></p><p><strong><em>Key Words: </em></strong><em>column grid, structure, design, apartement</em></p><p><strong> </strong></p><p><strong>Abstrak</strong></p><p>Apartemen memiliki fungsi utama sebagai hunian dan memiliki fungsi-fungsi pendukung untuk menunjang fungsi huniannya. Fungsi yang paling umum dijumpai di apartemen antara lain: fungsi parkir (biasanya berada pada lantai <em>basement</em>, fungsi <em>retail</em> (biasanya berada pada lantai 1), dan fungsi hunian (biasanya berada pada lantai atas atau <em>tower</em> apartemen) beserta ruang sirkulasinya. Masing-masing fungsi tersebut memiliki kebutuhan ruang yang berbeda dan menuntut luasan yang berbeda pula.</p><p>Masing-masing fungsi memiliki tuntutan ruang yang berbeda disusun secara vertikal dan berada dalam satu sistem struktur. Untuk memperoleh bangunan apartemen dengan pembagian ruang yang optimal pada perancangan, pembagian ruang dengan struktur harus dirancang secara terpadu. Seluruh fungsi di dalam apartemen perlu untuk dianalisis secara fungsional sehingga mendapatkan optimalisasi dalam pembagian ruang yang terintegrasi dengan pola peletakan <em>grid</em> kolom strukturnya.</p><p>Pola peletakan <em>grid</em> kolom struktur pada perancangan bangunan apartemen merupakan integrasi antara pola ruang aktivitas dan sistem struktur. Pengkajian akan dilakukan pada masing-masing fungsi ruang di apartemen, seperti: ruang parkir, ruang <em>retail</em>, dan ruang hunian. </p><p>Tujuan dari penelitian ini adalah melakukan komparasi terhadap dua bangunan untuk menemukan besaran <em>grid</em> perancangan yang efektif untuk perancangan bangunan apartemen, sebagai upaya mengintegrasikan <em>grid </em>efektif berdasarkan pola ruang aktivitas dengan <em>grid</em> struktural untuk digunakan dalam gagasan desain.</p><p>Penelitian dilakukan dalam beberapa tahap, yaitu: tahap studi literatur, tahap observasi, tahap analisa, tahap kesimpulan dan rekomendasi desain. Studi literatur yang digunakan adalah data literatur dan data studi kasus. Tahap observasi dilakukan dengan pengamatan langsung di lapangan. Tahap analisis menggunakan metode kualitatif dan kuantitatif. Analisis akan dibagi dalam tiga bagian, yaitu: analisi <em>grid</em> dasar perencanaan, analisis besaran <em>grid</em> perencanaan fungsi ruang, analisis besaran <em>grid</em> struktur. Pada bagian akhir akan didapatkan besaran <em>grid</em> perancangan yang efektif untuk perancangan bangunan apartemen sebagai upaya mengintegrasikan pola perencanaan dengan pola struktural.</p><p>Hasil pengkajian menunjukkan: pada ruang fungsi parkir didapatkan optimalisasi <em>grid</em> yaitu 6 m x 4,5 m, pada fungsi <em>retail</em> didapat optimalisasi di A m dimana A ≥ 4 m, dan pada fungsi hunian didapatkan optimalisasi di 6 m x 4,5 m. Maka didapatkan <em>grid</em> yang efektif untuk apartemen kelas menengah adalah 6 m x 4,5 m</p><p> </p><p><strong>Kata Kunci:</strong> <em>grid kolom, struktur, perancangan, apartemen</em></p> Laurentia Carissa Copyright (c) 2016 TATANAN https://journal.unpar.ac.id/index.php/tatanan/article/view/1882 Thu, 31 Dec 2015 00:00:00 +0700